Jakarta, rakyatpembaruan.com –
PT PLN (Persero) terus memperkokoh sinergi global untuk meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai bagian dari komitmen keinginan perusahaan dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Komitmen ini ditegaskan melalui penyerahan dokumen perjanjian kemitraan bersama United Nations Office for Project Services (UNOPS) pada kegiatan PLN Sustainability Day 2026 bertajuk “Empowering Climate Resilience” di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Perjanjian kemitraan tentang kajian dan dukungan kegiatan transisi energi ini akan mendorong berbagai inisiatif, termasuk kajian terkait strategi transisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), pengembangan smart grid dan Energy Storage System (ESS), serta studi yang mendukung pengembangan energi terbarukan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan, kerja sama tersebut mewakili komitmen berkelanjutan PLN dalam memperkuat kemitraan global guna menghadirkan solusi nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, strategi kolaborasi dan dukungan antarpihak dalam transisi energi merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan keberlanjutan energi nasional dan membangun ketahanan ekonomi yang berkelanjutan.

“PLN terus memperkuat kemitraan global untuk menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk melalui kolaborasi dengan UNOPS. Kemitraan ini mencerminkan visioner aliansi untuk mempercepat transisi energi Indonesia melalui inisiatif konkret yang berdampak tinggi,” tutur Darmawan.
Dirinya menambahkan, dukungan global adalah elemen penting bagi Indonesia dalam menjalankan transisi energi. Ia menekankan bahwa krisis iklim merupakan tantangan melintasi batas dampaknya yang dirasakan oleh seluruh dunia.
“Perubahan iklim adalah tantangan global yang tidak memenuhi batas negara. Emisi gas rumah kaca di satu wilayah di bumi akan berdampak pada wilayah lainnya. Oleh karena itu, transisi energi menjadi perjuangan bersama untuk menjaga masa depan peradaban manusia,” tegas Darmawan.
Wakil Direktur Kemitraan Transisi Energi Asia Tenggara (ETP) UNOPS, John Cotton menyampaikan, kolaborasi ini merupakan langkah penting untuk menyelaraskan transformasi sektor energi Indonesia melalui dukungan internasional. Keterlibatan ini diharapkan mampu mempercepat implementasi berbagai program prioritas melalui pendekatan berbasis kajian, inovasi teknologi, serta penguatan kapasitas korporasi.
“Perjanjian ini mencerminkan komitmen ETP berkelanjutan dalam mendukung agenda transisi energi Indonesia yang ambisius. PLN merupakan penggerak utama dalam transformasi ini. Melalui kemitraan ini kami bertujuan untuk memberikan dukungan strategis, teknis, dan praktis yang memungkinkan percepatan pengembangan energi bersih serta kesiapan jaringan listrik. Bersama-sama, kami berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi perekonomian, masyarakat, dan lingkungan Indonesia,” ucap John.
Sementara itu, Head of the United Nations Resident Coordinator’s Office, Matthew David Johnson-Idan, menyampaikan penghargaan atas langkah progresif PLN dalam mengubah komitmen Indonesia pada Paris Agreement, baik melalui Nationally Prepared Contribution (NDC) 2030 maupun target Net Zero Emissions (NZE) 2060. Menurutnya, transisi ke EBT bukan hanya soal mendorong lingkungan untuk generasi mendatang, tetapi juga strategi utama dalam menjaga ketahanan energi dan daya saing ekonomi nasional.
“Dalam peta jalan transisi energi nasional, peran PLN sangat krusial. PLN bukan sekadar penyedia listrik, melainkan institusi garda terdepan yang mengubah ambisi iklim Indonesia menjadi aksi nyata melalui ekspansi energi terbarukan, modernisasi jaringan (smart grid), dan peningkatan efisiensi energi secara masif,” ujar Matthew.
Matthew menambahkan, transformasi sistem energi dunia saat ini adalah sebuah keniscayaan. Dirinya menegaskan bahwa PBB siap mendukung PLN melalui berbagai strategi kolaborasi dan skema pembiayaan inovatif untuk mempercepat investasi transisi energi yang berdampak luas.
“Dalam konteks ini, PBB siap mendukung PLN dalam memobilisasi pasar modal, termasuk melalui instrumen seperti publikasi obligasi korporasi, pembiayaan campuran (blended finance), dan mekanisme berbagi risiko yang dapat mendorong investasi swasta jangka panjang sekaligus menjaga nilai publik,” kata Matthew.
PLN Sustainability Day 2026 merupakan wadah yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri untuk menyatukan visi dalam mempercepat dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional. Pada penyelenggaraan tahun kelima ini, PLN menegaskan bahwa sinergi internasional menjadi fondasi penting dalam menjalankan transisi energi nasional. Kolaborasi PLN dengan berbagai mitra global tentunya akan memperkuat langkah perseroan dalam memperluas pemanfaatan energi bersih, serta membangun sistem ketenagalistrikan yang lebih tangguh, inklusif, berdaya saing global, dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau nasional.(adi/rp)
