Jakarta – Kasus kanker ginjal di dunia diperkirakan akan meningkat tajam dalam beberapa dekade ke depan. Studi terbaru berjudul “Epidemiology of Renal Cancer: Incidence, Mortality, Survival, Genetic Predisposition, and Risk Factors” dipublikasikan dalam jurnal European Urology memprediksi jumlah kasus kanker ginjal global bisa berlipat ganda pada tahun 2050. Peningkatan ini dipicu oleh faktor risiko yang dapat dimodifikasi atau kebiasaan yang bisa diubah.
Pada tahun 2022, tercatat hampir 435.000 kasus baru kanker ginjal dan sekitar 156.000 kematian akibat penyakit tersebut di seluruh dunia. Peneliti dari Fox Chase Cancer Center yang tergabung dalam tim internasional menemukan jika tren faktor risiko saat ini terus berlanjut, jumlah tersebut berpotensi meningkat hingga dua kali lipat dalam 25 tahun mendatang.
“Kanker ginjal merupakan masalah kesehatan global yang terus berkembang, dan tenaga medis maupun pembuat kebijakan perlu bersiap menghadapi peningkatan kasus yang signifikan ini,” kata penulis senior studi tersebut, Alexander Kutikov, MD, FACS, Ketua Departemen Urologi di Fox Chase Cancer Center.
“Tinjauan ini merupakan titik acuan bagi bidang ini, merangkum apa yang kita ketahui tentang kejadian kanker ginjal, angka harapan hidup, genetika, dan faktor risiko.”

Para peneliti menyoroti bahwa lebih dari setengah kasus kanker ginjal di seluruh dunia berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Faktor-faktor tersebut antara lain obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit ginjal kronis, kebiasaan merokok, paparan lingkungan tertentu, serta berkurangnya aktivitas fisik.
Menurut Kutikov, perubahan gaya hidup dapat berperan besar dalam menurunkan risiko penyakit ini. Menjaga berat badan tetap ideal, mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah, serta berhenti merokok merupakan langkah pencegahan yang dapat memberikan dampak nyata.
“Perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan, mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta terutama berhenti merokok dapat menurunkan risiko secara signifikan. Ini adalah strategi pencegahan yang benar-benar dapat membuat perbedaan,” ujar Kutikov.
(suc/naik)
