Jakarta – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta PBB menghentikan pengugasan UNIFIL atau memindahkan pasukan ke luar medan pertempuran di Lebanon buntut adanya prajurit TNI yang gugur. PKB menilai usulan SBY dapat dipahami karena keamanan pasukan harus menjadi prioritas.
“Pertama, penting untuk diingat bahwa keterlibatan TNI di UNIFIL dan beberapa penugasan perdamaian PBB merupakan POV yang sangat positif, menjadi citra baik TNI dan bangsa Indonesia. Sangat mempengaruhi posisi tawar Indonesia dalam konstelasi hubungan militer dan diplomasi bangsa,” kata Anggota Komisi I DPR Fraksi PKB Syamsu Rizal kepada wartawan, Senin (6/4/2026).
Syamsu Rizal menyebut wilayah Lebanon Selatan tidak kondusif imbas serangan Israel. Menurutnya, baik Israel dan Lebanon tidak lagi dapat menjamin keamanan perdamaian pasukan yang bertugas, termasuk bagi para prajurit TNI.
“Di sisi lain, situasi di Lebanon Selatan memang sangat tidak kondusif. Komitmen kedua belah pihak tidak lagi memberikan jaminan keamanan terhadap UNIFIL dan TNI sebagai bagian integral dari UNIFIL,” katanya.

Syamsu Rizal menilai usulan SBY agar PBB menghentikan pengugasan UNIFIL di Lebanon tersebut dapat dipahami. Dia tekanan keamanan pasukan menjadi hal yang penting.
“Oleh karena itu saran Bapak SBY sangat dapat dipahami. Pernyataan Panglima TNI juga sesuai kondisi aktual. Bagi saya kondisi keamanan pasukan adalah yang paling utama,” ujarnya.
Syamsu Rizal juga meminta PBB agar segera mengeluarkan keputusan seperti memperbaharui Resolusi 1701 dan menegaskan jaminan keamanan pasukan dari kedua pihak yang terlibat perang.
“Serta memastikan sanksi tegas bagi kedua belah pihak bila masih terjadi aksi yang berisiko terhadap pasukan UNIFIL. Tentu tanpa mengurangi kewajiban PBB untuk mengusut tuntas 3 kejadian luar biasa yang mengakibatkan korban jiwa pasukan UNIFIL,” tutupnya.
SBY sebelumnya bicara gugurnya tiga prajurit TNI akibat serangan Israel di Lebanon. SBY meminta PBB segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan pengugasan UNIFIL atau misi menjaga perdamaian PBB.
Hal itu disampaikan SBY melalui unggahan di X, dilihat Minggu (5/4). Awalnya SBY menyampaikan kepada Indonesia atas gugurnya tiga prajurit TNI sebagai penjaga perdamaian di Lebanon.
Dia mengatakan pasukan penjaga perdamaian bertugas di ‘garis biru’ atau ‘zona biru’ yang bukan merupakan daerah pertempuran atau ‘zona perang’. Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di ‘Blue Line’ yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Lebanon.
Kondisi tersebut dinilai SBY sangat berbahaya bagi pasukan perdamaian. Sebab, setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung.
“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan pengugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” jelasnya.
(fca/gbr)
