Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan perang AS di Iran akan segera berakhir “mungkin dalam dua minggu, atau beberapa hari lebih lama untuk menuntaskannya. Tapi kami ingin memberdayakan semua yang mereka miliki.”
Pernyataan ini muncul di tengah klaim Trump bahwa tujuan utama operasi militer telah tercapai. Meski beberapa kali menyebut empat atau lima target, ia menegaskan hanya punya satu tujuan: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Menurutnya, target itu sudah tercapai, meski tanpa penjelasan rinci.
Ia juga menyebut AS masih membuka peluang kesepakatan dengan Iran dalam beberapa pekan ke depan. Namun jika tidak, “kami akan menyerang beberapa jembatan, sudah ada target yang kami pikirkan. Tapi kalau mereka mau kalah, itu akan bagus.”
Trump juga mengatakan Washington tidak akan terlibat dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. Sikap ini menampilkan tekanan AS kepada sekutunya, setelah sebelumnya Trump menilai mereka kurang berkontribusi dalam menjaga jalur pelayaran penting tersebut.

Di saat yang sama, dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan dalam wawancara dengan Al Jazeera bahwa Teheran belum menanggapi proposal 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang.
Ia mengakui menerima pesan langsung dari utusan AS Steve Witkoff, namun menyatakan itu belum bisa disebut sebagai proses negosiasi.
Rubio: AS akan “meninjau ulang” hubungan dengan NATO
Seiring ketegangan dengan Iran, dinamika juga mulai bergeser ke hubungan AS dengan sekutu militernya. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington akan “meninjau ulang” secara hukum dengan NATO setelah perang berakhir.
“Tidak diragukan lagi, setelah konflik ini selesai, kami harus mengembalikan hubungan itu. Kami juga harus menilai kembali nilai NATO bagi negara kami,” kata Rubio kepada Fox News.
Ia menambahkan, keputusan akhir tetap ada di tangan Trump. Rubio juga menyebut dirinya sebelumnya termasuk pendukung kuat NATO saat masih di Senat AS karena melihat manfaat besar dari sekutu tersebut.
Menurut Rubio, salah satu manfaat utama NATO adalah keberadaan pangkalan militer di Eropa yang memungkinkan AS memproyeksikan kekuatan ke berbagai wilayah dunia.
Namun ia merasa terancam, jika NATO justru membuat AS tidak bisa menggunakan pangkalan tersebut untuk melindungi kepentingannya, maka aliansi itu menjadi hubungan yang timpang.
Pernyataan ini sejalan dengan kritik Trump selama konflik, yang menilai banyak negara Eropa enggan terlibat langsung dalam perang.
Prancis mengutarakan solusi kemitraan, bersama Jerman dan Inggris yang sejak awal mendorong AS untuk bernegosiasi dengan Iran.
Menlu Iran akui ada “pesan langsung”, tapi bantah negosiasi
Di sisi lain, komunikasi antara Iran dan AS ternyata tetap berjalan, meski belum sampai tahap perundingan resmi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi telah menerima “pesan langsung” dari utusan AS Steve Witkoff.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi mengatakan, “Yang terjadi saat ini bukanlah negosiasi, melainkan pertukaran pesan, baik secara langsung maupun melalui mitra kami di kawasan.”
Ia menjelaskan pesan tersebut berisi ancaman atau pertukaran pandangan, tetapi tidak ada lembaga khusus di Iran yang berurusan dengan AS.
Komunikasi antara Teheran dan Washington disebut berlangsung melalui Kementerian Luar Negeri, meski ia juga mengakui adanya komunikasi antar aparat keamanan tanpa komunikasi lebih lanjut.
Araghchi menegaskan Iran belum menanggapi proposal 15 poin dari AS, dan belum mengajukan syarat atau usulan apa pun.
Ia mengatakan posisi Iran sebenarnya sudah jelas: Teheran tuntutan jaminan tidak akan kembali diserang, sekaligus meminta kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima gencatan senjata, melainkan menginginkan perang benar-benar berakhir, tidak hanya di Iran tetapi juga di seluruh wilayah, merujuk pada invasi Israel ke Lebanon.
Araghchi kembali menegaskan serangan Iran ke negara-negara Teluk tidak menyasar negara tersebut, melainkan aset milik AS. Namun ia juga mengakui, hubungan dengan negara tetangga akan sulit terasa dalam waktu dekat.
Paus Leo minta Trump mencari jalan keluar dari perang
Di tengah eskalasi ini, seruan untuk menghentikan perang juga datang dari pemimpin agama dunia. Paus Leo XIV menyampaikan seruan langsung kepada Presiden AS untuk mengakhiri perang di Iran.
“Saya diberi tahu Presiden Trump baru-baru ini mengatakan ingin mengakhiri perang,” ujar Paus kepada wartawan di Castel Gandolfo, dekat Roma. “Semoga ia sedang mencari jalan keluar.”
Ia menambahkan harapannya agar ada upaya mengurangi kekerasan dan pemboman.
Dalam beberapa pekan terakhir, Paus meningkatkan kritiknya terhadap perang Iran. Ia sebelumnya menyatakan Tuhan menolak doa dari mereka yang memulai perang dan memiliki “tangan yang berlumuran darah.”
Paus juga menyoroti tingginya jumlah korban jiwa, termasuk anak-anak, dan berharap kekerasan bisa berakhir sebelum Paskah pada 5 April.
“Korbannya sudah terlalu banyak, termasuk anak-anak yang tidak berdosa,” katanya. “Mari terus mendamaikan perdamaian.”
Ia juga menambahkan bahwa terlalu banyak pihak yang justru mendorong konflik dan kekerasan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara
Editor: Hani Anggraini
(ita/ita)
