Jakarta – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa usulan memorandum kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat (AS) akan secara resmi mengakhiri konflik di semua lini, termasuk Lebanon. Iran sekaligus meletakkan dasar untuk negosiasi tentang sanksi sanksi, program nuklir, dan pengaturan keamanan regional.
Laporan Anadolu Agency, Sabtu (13/6/2026), berbicara dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB, Araghchi mengatakan dokumen tersebut, yang biasa disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad, akan menandai berakhirnya perang secara resmi.
“Akhirnya perang akan diumumkan di semua lini, termasuk Lebanon,” katanya.
Araghchi mengatakan usulan memorandum tersebut mencakup komitmen untuk tidak memulai perang, mengancam penggunaan kekerasan, atau mencampuri urusan internal masing-masing negara. Ia mengatakan perjanjian tersebut juga akan mencakup komitmen bersama untuk menghormati pelestarian.

“Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran,” kata Araghchi.
Proses Negosiasi Dua Tahap
Menurut Araghchi, negosiasi akan berlangsung dalam dua tahap. Fase pertama meliputi penandatanganan nota kesepahaman, sedangkan fase kedua akan terdiri dari negosiasi mengenai kesepakatan akhir.
Ia mengatakan isu-isu terkait pencabutan sanksi, pengayaan uranium, persediaan uranium yang diperkaya Iran, dan dana rekonstruksi untuk Iran akan dibahas selama tahap kedua.
Araghchi mengatakan putaran kedua negosiasi diperkirakan akan berlangsung selama 60 hari, meskipun periode tersebut dapat diperpanjang jika kedua belah pihak puas dengan kemajuan yang dicapai. Jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan akhir, masing-masing pihak dapat kembali ke posisi sebelumnya, tambahnya.
Selat Hormuz dan Aset yang Dibekukan
Araghchi mengatakan pengelolaan Selat Hormuz di masa depan akan berubah sesuai rencana Iran. “Selat Hormuz berada di bawah yurisdiksi Iran dan Oman,” katanya, menambahkan bahwa Teheran dan Muscat akan segera mengeluarkan pernyataan bersama mengenai strategi pengelolaan jalur udara tersebut.
Ia mengatakan Iran sedang berkonsultasi dengan para mitra, termasuk Tiongkok dan Oman, mengenai pengelolaan lalu lintas maritim melalui selat tersebut.
“Pedang kami akan selalu tetap berada di atas Selat Hormuz,” katanya, menambahkan bahwa Iran tidak akan mengenakan bea transit tetapi akan mengenakan biaya layanan.
Araghchi juga mengatakan blokade maritim yang dikenakan di Iran harus dicabut sepenuhnya berdasarkan memorandum yang diusulkan. Ia mengatakan semua aset Iran yang dijanjikan akan dilepaskan dan tidak dapat diblokir lagi berdasarkan perjanjian tersebut.
Uranium yang Diperkaya
Ditanya tentang transfer uranium yang diperkaya, Araghchi mengatakan posisi Teheran tetap tidak berubah. “Posisi kami selalu bahwa jika uranium yang diperkaya tingkat tinggi akan ditangani, satu-satunya metode yang dapat diterima adalah pengenceran di Iran,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Iran sedang mencari bahasa dalam negosiasi yang akan mencerminkan pendekatan tersebut. Araghchi menekankan bahwa belum ada keputusan akhir yang dibuat mengenai tingkat pengayaan uranium atau persediaan uranium yang diperkaya Iran.
Tinjauan Internal dan Penandatanganan
Menteri Luar Negeri mengatakan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah melakukan pengawasan penuh terhadap negosiasi dan meninjau semua ketentuan draf memorandum. Ia mengatakan terdapat perbedaan pendapat di antara para pejabat mengenai rancangan tersebut, tetapi keputusan akhir akan dibuat secara kolektif.
Menurut Araghchi, memorandum tersebut kurang dari dua halaman dan telah dinegosiasikan kata demi kata. Ia mengatakan perjanjian tersebut dapat ditandatangani dalam beberapa hari setelah tahap akhir negosiasi selesai.
“Penandatanganan akan dilakukan secara digital dan jarak jauh,” katanya.
Araghchi menambahkan bahwa jika komitmen yang terkandung dalam memorandum tidak dilaksanakan oleh pihak lain, Iran tidak akan melanjutkan ke tahap kedua negosiasi.
(rfs/dhn)
