Israel dan Hamas sedang melakukan negosiasi tidak langsung di Sharm El-Sheikh, Mesir, berdasarkan “rencana 20 poin” yang diajukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bulan lalu.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin, utusan khusus Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff, serta menantu Trump Jared Kushner hadir untuk menghadiri perundingan tersebut.
“Ada peluang nyata bahwa kita bisa mencapai sesuatu,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (07/10), sambil menambahkan bahwa negosiator AS juga terlibat dalam pembicaraan itu.
“Saya pikir ada kemungkinan kita bisa menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Ini melampaui situasi di Gaza. Kami ingin semua sandera segera dibebaskan,” ujarnya.

Trump mengatakan, AS akan melakukan “segala upaya untuk memastikan semua pihak mematuhi kesepakatan”, jika Hamas dan Israel berhasil mencapai gencatan senjata.
Pembicaraan ini terjadi bertepatan dengan peringatan dua tahun serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Sebagian besar wilayah Gaza kini hancur, kelaparan yang dinyatakan PBB tengah terjadi, dan keluarga sandera Israel masih menantikan kepulangan orang-orang yang mereka cintai.
Bulan lalu, PBB menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, sementara kelompok hak asasi manusia menuding Hamas melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam serangan 7 Oktober. Kedua pihak membantah tuduhan tersebut.
Ratusan ribu orang turun ke jalan mengikuti demonstrasi besar pro-Palestina di berbagai kota dunia akhir pekan lalu, termasuk di Italia, Spanyol, Irlandia, dan Inggris. Para demonstran menuntut segera berakhirnya perang.
Di Belanda, para pengunjuk rasa ditolak pemerintah mereka karena mengakui negara Palestina. Sementara di Inggris, puluhan ribu orang tetap menggelar aksi meski Perdana Menteri Keir Starmer menghancurkan agar mereka tidak melakukannya.
Pembahasan perdamaian butuh “jaminan”
Ketua tim negosiasi Hamas, Khalil El-Hayya, mengatakan kelompoknya menginginkan “jaminan dari Presiden Trump dan pendukung negara-negara bahwa perang akan benar-benar berakhir untuk selamanya.”
Rencana Trump mencakup gencatan senjata, melepaskan seluruh sandera, pelucutan senjata Hamas, dan melepaskan secara bertahap pasukan Israel dari Gaza.
Rencana tersebut disambut positif oleh Israel maupun Hamas, dan menjadi dasar negosiasi yang berlangsung di Mesir sejak Senin (06/10).
Seorang sumber Palestina yang dekat dengan tim negosiasi Hamas mengatakan sesi pada Selasa (07/10) membahas “peta awal yang disampaikan pihak Israel terkait penarikan pasukan, serta mekanisme dan jadwal pertukaran tahanan dan sandera.”
Pada Rabu (08/10), utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, akan bergabung dalam perundingan, menurut Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty.
“Jaminan utama yang berhasil pada tahap ini adalah Presiden AS Donald Trump sendiri. Bahkan jika diperlukan, ia bisa memaksakan visinya,” kata Abdelatty.
Qatar menyatakan Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani akan hadir, sementara media pemerintah Turki melaporkan Kepala Intelijen Ibrahim Kalin akan memimpin utusan negaranya ke Mesir.
Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas melaporkan, kampanye militer Israel telah memberikan sedikitnya 67.160 orang. PBB menyatakan angka itu kredibel. Data tersebut tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan, tetapi menunjukkan lebih dari separuh korban adalah perempuan dan anak-anak.
(ita/ita)