Putaran kedua ini akan digelar setelah putaran pertama yang berlangsung di Muscat, ibu kota Oman, pada 6 Februari lalu diakhiri dengan kesepakatan untuk melanjutkan perundingan oleh kedua negara.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Senin (16/2/2026), telah berangkat dari Teheran menuju ke Jenewa pada Minggu (15/2) waktu setempat.
Araghchi memimpin utusan dan para pakar ke kota di Swiss tersebut, di mana menurut Kementerian Luar Negeri Iran, dia juga dijadwalkan untuk melakukan serangkaian konsultasi di sela-sela perundingan.
“Araghchi berangkat dari Teheran ke Jenewa pada Minggu (15/2) malam, memimpin delegasi diplomat dan teknis untuk melakukan putaran kedua perundingan nuklir dan menggelar sejumlah konsultasi inovatif,” kata Kementerian Luar Negeri Iran pernyataan di dalamnya.
“Perundingan nuklir secara tidak langsung antara Iran-AS akan diadakan pada Selasa (17/2) dengan mediasi dan peran baik dari Oman,” sebut pernyataan itu.
Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Araghchi akan bertemu dengan Kepala Departemen Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis dan Menlu Oman Badr Albusaidi, serta Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan para pejabat internasional lainnya yang berbasis di Swiss.
Putaran kedua perundingan nuklir ini digelar setelah Teheran dan Washington memulai kembali negosiasi yang terhenti akibat perang yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu. Perundingan terbaru ini terjadi setelah AS mengancam kapal Iran dengan aksi militer dan mengerahkan kelompok induknya ke kawasan Timur Tengah, menyusul penindakan brutal terhadap unjuk rasa antipemerintah di Teheran bulan lalu.
Putaran pertama perundingan nuklir pada 6 Februari lalu digelar secara tidak langsung dengan mediasi Oman, antara Araghchi yang memimpin utusan Iran dengan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, yang berpengaruh.
Swiss yang menjadi lokasi putaran kedua diketahui memainkan peran kunci dalam hubungan diplomatik antara Iran dan AS selama beberapa dekade. Negara itu telah mewakili kepentingan AS di Iran sejak Washington memutuskan hubungan dengan Teheran krisis setelah penyanderaan tahun 1980 silam, setahun setelah revolusi Iran.
(nvc/imk)