Muara Enim, 13 Januari 2026 — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina melaksanakan serah terima sarana wisata edukatif kreatif berupa taman bermain dan landmark wisata Danau Kemiri kepada Pemerintah Desa Pagardewa, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada Senin (12/1). Fasilitas tersebut merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PGN melalui Program Inovasi Sosial Penguatan Desa Ekonomi Kreatif, Aman, dan Setara (Pendekar Dewa).
Program ini bertujuan memperkuat ketahanan lingkungan, mendorong pemerataan akses dan inklusivitas bagi kelompok rentan, serta mengembangkan nilai tambah ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Melalui Pendekar Dewa, PGN berupaya mewujudkan masyarakat Pagardewa yang berdaya, berkarya, dan inovatif.
Desa Pagardewa memiliki ketergantungan tinggi pada sektor perkebunan karet, dengan sekitar 70 persen masyarakat menggantungkan penghidupan pada komoditas tersebut. Namun, dampak harga karet, keterbatasan akses air bersih, serta tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau seringkali menekan produktivitas dan kestabilan pendapatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan.
Direktur Manajemen Risiko PGN, Eri Surya Kelana, menjelaskan bahwa Program Pendekar Dewa dirancang dan dijalankan secara bertahap untuk memastikan dampak yang berkelanjutan. Fase pertama pada tahun 2021–2022 difokuskan pada fondasi pembangunan dan pemetaan kebutuhan masyarakat. Fase kedua pada tahun 2023–2024 diarahkan pada pengembangan sistem dan penghentian kemandirian, sementara fase ketiga pada tahun 2025 menitikberatkan pada penguatan penghentian melalui estafet pengelolaan kepada para pemangku kepentingan lokal.

“Program ini tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, tetapi membangun sistem yang mampu meningkatkan ketahanan lingkungan dan ekonomi secara masyarakat berkelanjutan,” ujar Eri, Selasa (13/1).
Pendekar Dewa dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni Aman, Setara, dan Ekonomi Kreatif. Pilar Aman fokus pada peningkatan kepastian usaha dan pendapatan petani karet melalui Program Stasiun Lateks yang memangkas rantai penjualan dan menstabilkan harga, Sebakul Dewa sebagai sentra bibit unggul karet, serta SITEGAS melalui pengembangan budidaya madu dan UMKM keluarga petani.
Melalui pilar ini, pendapatan petani karet pada tahun 2025 tercatat mencapai Rp57,6 juta per tahun atau meningkat 33,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, optimalisasi lahan penanaman kembali mencapai nilai Rp120 juta, serta sebanyak 28 anggota keluarga petani—khususnya kaum perempuan—kini memiliki sumber penghasilan mandiri, dengan total nilai penjualan UMKM mencapai Rp11,38 juta.
Sementara itu, Pilar Setara menjawab keterbatasan akses air bersih dan sanitasi yang sebelumnya mengharuskan sebagian warga berjalan hingga satu kilometer untuk mendapatkan udara. PGN membangun lima fasilitas MCK bertenaga PLTS serta membentuk kelompok Pendekar Talang sebagai pengelola udara. Program ini memberikan akses air bersih bagi 28 kepala keluarga sekaligus mendukung upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
*Pusat Wisata dan Ketahanan Lingkungan*
Adapun Pilar Ekonomi Kreatif diwujudkan melalui pengembangan kawasan Danau Kemiri sebagai pusat wisata edukatif dan ekonomi kreatif desa. Kawasan ini dilengkapi lima fasilitas umum, meliputi aula, booth UMKM, taman bermain, taman lalu lintas, dan amfiteater. Selain berfungsi sebagai ruang publik, Danau Kemiri juga menjadi sumber air dengan kapasitas 22.500 meter kubik untuk mendukung ketahanan lingkungan.
Danau Kemiri kini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rumpun Kemiri. Sepanjang tahun 2025, kawasan ini mencatat total kunjungan sebanyak 6.554 orang dan menghasilkan pendapatan wisata sebesar Rp92,48 juta, atau meningkat 191 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Eri menambahkan, keberadaan Danau Kemiri beserta sarana pendukungnya memiliki fungsi strategis yang melampaui aspek estetika dan rekreasi. Kawasan ini dirancang sebagai ruang publik terpadu yang mendukung wisata edukatif, interaksi sosial, serta menjadi sumber air alternatif dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau.
“Danau Kemiri tidak hanya dikembangkan sebagai kawasan wisata, tetapi juga sebagai solusi berbasis kebutuhan masyarakat yang mendukung penguatan ketahanan lingkungan desa,” ujarnya.
Ia berharap seluruh fasilitas dan program yang telah diserahterimakan dapat dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat agar memberikan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan.
Staf Ahli Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kabupaten Muara Enim, Juli Jumatan Nuri, mengapresiasi pelaksanaan Program Pendekar Dewa yang dinilai komprehensif dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat.
“Program PGN dirancang dan dijalankan dari hulu hingga hilir, mulai dari pemetaan permasalahan, memuat kebutuhan dasar, hingga pemberdayaan dan penghentian pengelolaan oleh warga. Pendekatan ini mencerminkan komitmen PGN dalam menghadirkan program pemberdayaan yang tidak bersifat sesaat, melainkan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan,” tutupnya.(Adi/Rp)