Jakarta – Serangan jantung ternyata lebih sering terjadi pada pagi hari dibandingkan malam. Para ahli menyebut kondisi ini berkaitan erat dengan jam biologis tubuh atau ritme sirkadian yang mengatur tekanan darah, hormon, hingga kerja pembuluh darah.
Artinya, waktu dalam sehari bisa mempengaruhi kapan jantung berada pada fase paling rentan.
Tubuh manusia bekerja dalam siklus 24 jam yang mengendalikan otak. Sistem ini mengatur pola tidur, pelepasan hormon, tekanan darah, serta aliran darah di arteri.
Saat pagi hari, tubuh beralih dari mode istirahat ke mode aktif. Hormon meningkat, detak jantung menjadi lebih cepat, dan pembuluh darah sedikit menyempit.

Perubahan ini sebenarnya normal, karena tubuh sedang mempersiapkan diri untuk bangun dan beraktivitas. Tetapi, pada orang yang pembuluh darahnya bermasalah, kondisi ini bisa memicu gangguan serius.
Mengapa Risiko Lebih Tinggi di Pagi Hari?
Rentang waktu pukul 06.00 hingga siang hari disebut sebagai fase aktivasi alami tubuh. Menurut kardiolog dan Direktur Utama Bedah Kardiotoraks Vaskular Fortis Memorial Research Institute, Dr Udgeath Dhir, saat itu tubuh mengalami ‘fase aktivasi’.
“Serangan jantung (Infark Miokard) lebih sering terjadi di pagi hari, terutama antara pukul 6 pagi dan siang hari, karena tubuh Anda mengalami ‘fase aktivasi’ alami setelah bangun tidur,” ucap Dr Dhir dikutip dari Times of India.
“Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin meningkat, tekanan darah dan detak jantung Anda meningkat dengan cepat, dan darah Anda menjadi sedikit lebih rentan terhadap pembekuan.”
Kombinasi ini membuat tekanan pada jantung meningkat. Jantung membutuhkan lebih banyak oksigen, sementara darah menjadi lebih mudah menggumpal.
Jika seseorang memiliki penyakit arteri koroner atau menumpuknya plak di pembuluh darah, gangguan ini dapat memicu pecahnya plak. Setelah itu, gumpalan darah bisa terbentuk dan menyumbat aliran darah ke jantung dalam waktu singkat.
Bagaimana Kondisi Jantung saat Malam?
Saat malam, tubuh mulai masuk fase relaksasi. Tekanan darah cenderung stabil atau menurun, hormon stres berkurang, dan darah lebih kecil kemungkinannya membeku.
“Di malam hari, tubuh beralih ke keadaan yang lebih rileks. Tekanan darah stabil atau menurun, kadar hormon stres menurun, dan darah cenderung tidak menggumpal,” kata Dhir.
“Ini menciptakan lingkungan dengan risiko relatif lebih rendah untuk penyumbatan arteri secara tiba-tiba,” sambungnya.
Meski begitu, bukan berarti serangan jantung tidak bisa terjadi pada malam hari. Risiko tetap ada, terutama jika dipicu oleh faktor lain seperti makan berlebihan, konsumsi alkohol, stres emosional, atau aktivitas berat larut malam.
Apa yang Terjadi di Dalam Arteri?
Di dalam tubuh, proses penyumbatan pembuluh darah berjalan perlahan dan sering tanpa gejala. Lemak menumpuk di dinding arteri dan membuat pembuluh darah menyempit, kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis.
Saat pagi hari terjadi tekanan darah, plak ini bisa retak. Tubuh membayangkan sebagai cedera dan segera membentuk gumpalan darah.
Jika sumbatan terjadi di arteri jantung, serangan jantung dapat muncul dalam hitungan menit. Tetapi, kebiasaan sehari-hari ternyata sangat berpengaruh.
Ritme biologi tubuh bisa terganggu akibat kebiasaan buruk, seperti:
Tidur tidak teratur
Sering begadang
Makan larut malam
Stres kronis
Kurangnya aktivitas fisik
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung secara keseluruhan. Meski begitu, kondisi ini bisa dicegah dengan menjalani kebiasaan yang sederhana, seperti:
Bangun pada jam yang sama setiap hari.
Hindari stres berlebihan saat setelah bangun tidur.
Lakukan aktivitas ringan terlebih dahulu.
Hindari langsung berolahraga terlalu berat.
Jaga pola makan dan tidur teratur.
(sao/kna)
