Riyadh – Iran melaporkan menembakkan rudal balistik ke sebuah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang ada di wilayah Arab Saudi pada Sabtu (18/7) waktu setempat. Ini menandai serangan langsung pertama Teheran terhadap Riyadh dalam kurun waktu hampir empat bulan terakhir.
Serangan rudal Iran terhadap Saudi ini, seperti dilansir Anadolu Agency dan Reuters, Sabtu (18/7/2026), diberitakan oleh media AS, Axios, yang mengutip seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya.
Menurut pejabat AS tersebut, Iran menargetkan pangkalan militer Amerika di wilayah Saudi dengan sebuah rudal balistik. Tidak disebutkan lebih lanjut rincian mengenai serangan Teheran itu maupun targetnya.
Otoritas Saudi belum mengkonfirmasi atau membantah laporan serangan Iran tersebut. Namun otoritas pemerintah sipil Saudi, pada Sabtu (18/7) dini hari, merilis dua peringatan dini bagi warganya di kota Al-Kharj dan Yanbu agar mewaspadai “potensi bahaya”.
Tak lama kemudian, otoritas pertahanan sipil Saudi menyatakan bahwa bahaya di kedua wilayah tersebut telah berlalu, tanpa memberikan rincian mengenai bahaya yang memicu dirilisnya peringatan tersebut.
Jika dikonfirmasi, maka serangan rudal Iran itu menandai serangan pertama secara langsung dilancarkan terhadap Saudi dalam empat bulan terakhir. Iran terakhir kali menyerang sasaran di wilayah Saudi pada awal April lalu, ketika serangan udara menghantam kompleks petrokimia Jubail.
Militer Iran atau Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sejauh ini belum merilis pernyataan resmi mengenai serangan terhadap target Saudi.
Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, di mana Iran dan AS saling memperebutkan kendali atas jalur perairan strategis tersebut. Beberapa pekan terakhir, Teheran dan Washington kembali kapal saling melancarkan serangan menyusul serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, yang diyakini didalangi Iran.
Pasukan militer AS menggempur sasaran-sasaran Iran di darat dan lautan, sementara Teheran membalas dengan sasaran pangkalan militer Washington yang ada di negara-negara Teluk.
Pertempuran yang kembali berkobar ini menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan.
(nvc/idh)
