Berlin – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih terjadi sejak 21 Juni, bertepatan dengan dimulainya periode suhu tinggi yang memecahkan rekor di berbagai wilayah.
Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa dampak gelombang panas ini sangat luas, dengan sekitar 150 juta orang saat ini hidup di bawah kondisi panas ekstrem. Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan ratusan kematian, tetapi juga memaksa penutupan sekolah serta menekan infrastruktur penting seperti jaringan listrik.
“Lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni yang terkait dengan suhu tinggi di Eropa,” kata Tedros dalam pernyataannya.
WHO menilai krisis ini sebagai ancaman kesehatan serius yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi. Organisasi PBB tersebut kini bekerja sama dengan anggota negara-negara dan berbagai mitra untuk memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan langkah pencegahan, serta memperkuat sistem layanan kesehatan dalam menghadapi suhu ekstrem. Selain itu, WHO juga mendorong penerapan rencana aksi kesehatan terkait panas di setiap negara.
Sementara itu, gelombang panas ekstrem sejak akhir Juni juga menyebabkan sekitar 1.000 kematian tambahan di Prancis, menurut Kementerian Kesehatan. Suhu yang memecahkan rekor, dengan puncaknya pada 23 Juni, mendorong terjadinya kematian harian hingga lebih dari 1.400 kasus, jauh di atas rata-rata normal.
Dalam situasi ini, lansia menjadi kelompok paling terdampak, mencakup 85% korban. Kematian meningkat di rumah sakit, panti jompo, dan rumah, dengan perubahan signifikan di rumah mencapai 40%. Wilayah berstatus peringatan merah mengalami dampak paling parah.
Hingga kini, pihak berwenang setempat menyatakan data tersebut masih sementara dan baru mencakup sekitar 60% laporan kematian nasional.
Rekor suhu ekstrem melanda Jerman, Polandia, dan Republik Ceko
Jerman kembali mencatat rekor suhu hingga 41,7 derajat Celcius pada hari Minggu (28/06), menandai hari ketiga berturut-turut terjadinya suhu tertinggi baru, menurut Dinas Cuaca Jerman (DWD). Rekor tersebut dicatat di organisasi pedesaan Coschen, Brandenburg, dengan pengukuran yang masih bersifat sementara dan menunggu verifikasi resmi.
Dalam beberapa hari terakhir, pusat suhu ekstrem bergeser ke wilayah timur, meliputi Brandenburg dan Sachsen. Sebelumnya, suhu 41,5 derajat Celsius tercatat di Drewitz, Sachsen-Anhalt, pada Sabtu hari (27/06), dan angka yang sama kembali terjadi di Bad Muskau, Sachsen, di perbatasan Polandia pada hari Minggu (28/06). Gelombang rekor ini bermula dari suhu 41,3 derajat Celsius yang tercatat di Saarbrcken pada hari Jumat (26/06).
Sementara itu, Polandia dan Republik Ceko juga mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius pada hari Minggu (28/06). Di Republik Ceko, desa Doksany, sekitar 50 kilometer di utara Praha mencapai suhu 41,9 derajat Celcius, menurut Institut Meteorologi Ceko (CHMI).
“Ini untuk pertama kalinya kami mencatat suhu 41 derajat dalam jaringan stasiun cuaca resmi kami,” tulis CHMI dalam unggahan di X. Rekor tersebut melampaui suhu 40,9 derajat Celcius yang dicatat sehari sebelumnya.
CHMI menyebut kenaikan suhu dipicu oleh aliran udara panas dari barat daya yang melanda kawasan Eropa Tengah. Di tengah suhu ekstrem, aktivitas warga tetap terlihat di sejumlah lokasi, termasuk di Sungai Vltava di Cesky Krumlov, di mana warga memadati area perairan untuk mencari kesejukan.
Panas ekstrem lumpuhkan layanan trem di Leipzig
Layanan trem di Leipzig, Jerman timur, dihentikan hingga Senin pagi akibat dampak suhu ekstrim yang melanda kota tersebut.
Suhu tinggi menyebabkan aspal mencair dan merusak rel serta titik percabangan di berbagai lokasi. Otoritas Transportasi Leipzig (LVB) semula hanya menangguhkan operasional hingga Sabtu (27/06) malam, namun kemudian memperluas layanan sepanjang akhir pekan.
Kerusakan terjadi ketika bahan penyegel pada sambungan antara aspal dan beton mencair serta menggumpal, sehingga rel menjadi tidak aman untuk dilalui.
Di tengah pemadaman tersebut, layanan bus di kota berpenduduk lebih dari setengah juta jiwa tetap beroperasi dan sebagian besar berjalan sesuai jadwal.
Gelombang panas ekstrem Eropa memicu perubahan iklim?
Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa disebut tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim, menurut studi terbaru World Weather Attribution (WWA). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kondisi panas yang terjadi saat ini hampir tidak mungkin terjadi 50 tahun yang lalu, dan kini 200 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dua dekade sebelumnya.
Para ilmuwan menemukan bahwa gelombang panas serupa di masa lalu jauh lebih rendah intensitasnya, baik pada siang maupun malam hari. Bahkan, peristiwa seperti ini dinilai hampir tidak mungkin terjadi pada kondisi iklim dekade 1970-an.
Penelitian juga mencatat hampir setengah dari 850 kota di 30 negara Eropa telah memecahkan atau berpotensi memecahkan rekor tingkat stres panas, indikator yang mencakup suhu dan kelembaban. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya bagi manusia.
Eropa, yang menjadi benua dengan pemanasan tercepat di dunia, dinilai belum siap menghadapi suhu ekstrem. Keterbatasan infrastruktur, seperti minimnya pendingin udara, memperparah dampak gelombang panas yang kini juga mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari transportasi hingga kegiatan sekolah.
Para ilmuwan diberitahu bahwa kejadian serupa akan semakin sering terjadi dan tekanan perlunya adaptasi serta pengurangan emisi karbon sebagai langkah utama menghadapi krisis iklim.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor : Adelia Dinda Sani
(nvc/nvc)
