Palembang, rakyatpembaruan.com-
Konten kreator TikTok @kingubayy yang videonya sempat viral karena dinilai menyinggung kondisi fisik penyandang disabilitas, mendatangi kantor National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Provinsi Sumatera Selatan di Jalan Opi Raya, Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (19/03/2026).
Kedatangan kreator bernama Ubay tersebut bertujuan untuk bersilaturahmi, melakukan klarifikasi, sekaligus menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada pengurus NPCI Sumsel. Langkah ini dilakukan setelah video parodi yang beredar luas di media sosial menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk NPCI Sumsel, karena dianggap menghina penyandang disabilitas.
Ubay yang berasal dari Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, menyampaikan penghargaan kepada pengurus NPCI Sumsel yang telah memberikan kesempatan untuk bertemu secara langsung.

“Saya dan teman-teman memohon maaf sebesar-besarnya kepada penyandang disabilitas atas parodi konten kami yang telah menyakiti hati,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konten tersebut dibuat tanpa unsur kesengajaan untuk menghina. Namun demikian, Ubay mengakui bahwa video tersebut merupakan kesalahan fatal.
“Kami sadar itu adalah kesalahan kami. Sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya. Ke depan, kami akan lebih berhati-hati dan teliti dalam membuat konten agar tidak melukai pihak mana pun,” tambahnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Ubay juga berencana untuk lebih terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan komunitas disabilitas.
Sementara itu, Ketua NPCI Sumatera Selatan, Rian Yohwari, menyatakan menerima permintaan maaf tersebut dengan tulus.
“Kami tidak terlalu mempersoalkan hal ini. Kami selalu berpikir bagaimana dengan batasan yang ada, kami tetap bisa sukses,” kata Rian.
Menurutnya, kesalahan merupakan hal yang manusiawi. Oleh karena itu, memutuskan memilih untuk memberikan maaf tanpa mengharapkan ketidakseimbangan apa pun.
“Kami menyampaikan maaf ini dengan tulus. Kesalahan pasti ada pada manusia,” ujarnya.
Rian juga mengajak seluruh penyandang disabilitas untuk saling memaafkan dan menjadikan peristiwa ini sebagai motivasi untuk terus maju.
“Kami mempunyai keterbatasan secara fisik, namun tidak memiliki keterbatasan dalam berpikir. Apa yang kami lakukan, baik secara lisan maupun tindakan, harus bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tandasnya.(adi/rp)
