Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui pasar saham Indonesia sedang mengalami tekanan yang cukup serius. Hal ini terlihat dari pelemahan nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aksi jual oleh para investor asing.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebut jumlah perusahaan yang sudah melantai di bursa saham Indonesia per 26 Juni 2026 mencapai 957 emiten.
Menurutnya, jumlah itu meningkat dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2011 lalu yaitu sekitar 440 emiten. Itu menunjukkan pertumbuhan pasar modal Garuda yang cukup signifikan dalam satu setengah dekade terakhir.
“Partisipasi masyarakat juga terlihat terus meningkat, tercermin dari jumlah investor yang telah mencapai sekitar 28,81 juta investor, atau bahkan di tahun ini saja year to date telah tumbuh 41,45%” kata Hasan di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).
Meski begitu, Hasan berpendapat saat ini pasar modal Tanah Air sedang mengalami tekanan besar serta tingkat kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia yang semakin memudar.
Sejak 1 Januari hingga 26 Juni 2026 (year to date/YTD), nilai IHSG tercatat turun sebesar 31,81%. Pada saat yang sama, nilai jual bersih atau net sell yang dilakukan investor asing mencapai Rp 71,681 triliun di pasar saham Garuda.
“Investor-investor asing membukukan net sell sebesar Rp 71,68 triliun secara year to date. Dinamika tersebut mengkonfirmasi bahwa kepercayaan akan selalu menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan pasar modal di kawasan,” ujar Hasan.
Atas dasar inilah, untuk memperbaiki kepercayaan investor asing, Hasan menilai seluruh pemangku kepentingan termasuk OJK dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu lebih mencermati masukan dan penilaian dari lembaga pemeringkat sebut saja Morgan Stanley Capital International (MSCI) atau FTSE Russell.
“Kita harus benar-benar mencermati dan mendengarkan bagaimana lembaga-lembaga independen yang menjadi rujukan investor internasional menilai aspek kualitas aspek aksesibilitas transparansi dan tata kelola dari pasar kita,” terangnya.
Dalam konteks ini, Hasan mengaku sangat bersyukur karena MSCI mempertahankan status pasar modal Indonesia pada posisi Emerging Markets. Meski tentu dalam pelaksanaannya masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
“MSCI memberikan pengakuan bahwa berbagai langkah reformasi yang telah dan sedang kita jalankan sebetulnya sudah berada pada arah yang tepat tentu ada catatan bagaimana kita menjaga konsistensi dan efektivitasnya,” tandas Hasan.
(igo/fdl)
