“Ada kemungkinan besar harga logam mulia itu di Rp2.820.000 (per gram) jika menembus level resistensi kedua,” ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026).
Ibrahim menjelaskan harga emas dunia ditutup di level US$ 4.595 per troy ons pada perdagangan kemarin. Sementara, harga logam mulia di level Rp 2,68 juta per gram. Namun, angka ini diprediksi akan bergerak fluktuatif mengikuti dua skenario.
Apabila harga emas dunia mengalami kenaikan, Ibrahim menyebut resistensinya tembus pertama di level US$ 4.655 per troy ons. Sementara itu, harga logam mulia diprediksi menjadi Rp 2,7 juta. Jika berlanjut ke resistensi kedua, harga emas dunia di level US$ 4.706 per troy ons dan harga logam mulia bisa menyentuh Rp 2.820.000 per gram.
Sebaliknya, jika harga emas dunia turun, level resisten pertama di level US$ 4.553 per troy ons dan harga logam mulia Rp 2.638.000 per gram. Jika penurunan terus berlanjut, diperkirakan resisten kedua hingga di level US$ 4.489 per troy ons dan Rp 2.560.000/gram.
Menurut Ibrahim, ada sederet faktor yang membuat harga emas berfluktuatif. Pertama, perang dagang antara Uni Eropa dan China. Uni Eropa baru saja mematok tarif dumping impor produk alumina dari China sebesar 88,7% hingga 110,6%. China diprediksi akan membalas balasan serupa pekan depan.
Kedua, rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin caplok Greenland. Trump akan menerapkan biaya impor 20% bagi produk Eropa akibat Greenland yang tidak diserahkan ke AS. Bahkan pasukan NATO kini sudah berjaga di sana.
Ketiga, geopolitik di Iran yang semakin buruk. Demonstrasi besar di Iran telah membunuh lebih dari 3.000 orang. Ibrahim menyebut Iran bahkan sempat menutup wilayah udaranya, menandakan siaga perang. Apalagi, kapal induk AS, Abraham Lincoln, dilaporkan mulai merapat ke Timur Tengah.
Keempat, politik internal AS. Ibrahim menjelaskan Ketua The Fed, Jerome Powell, dikabarkan akan dihubungi Jaksa Agung terkait urusan politik pembangunan Bank Sentral. Hal ini menambah daya tarik pasar.
Tak hanya itu, bank sentral global, seperti China, India, Amerika Latin, hingga negara-negara ASEAN mulai melakukan aksi borong emas besar-besaran. Mereka menilai kondisi global sudah dianggap gawat.
“Sehingga Bank Sentral Tiongkok, Bank Sentral India, Amerika Selatan, Amerika Latin, ASEAN, ini pun juga berlomba-lomba melakukan pembelian terhadap logam mulia. Nah ini yang membuat harga emas dunia mengalami kenaikan,” terang Ibrahim.
“Kenaikan logam mulia pun juga disebabkan oleh pelemahan mata uang rupiah. Mata uang rupiah yang terus mengalami pelemahan membuat harga logam mulia terus mengalami kenaikan,” tambah ia.
(acd/acd)