Jakarta – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan tarif impor baru ke Indonesia, India, dan Laos. Departemen Perdagangan (DOC) AS menetapkan bea masuk sementara (bea masuk balasan) atas impor produk sel dan panel surya dari negara ketiga ini.
Dikutip dari Reuters, Kamis (26/2/2026), dalam lembar fakta yang dirilis oleh DOC, ditetapkan tingkat subsidi umum sebesar 125,87% untuk impor produk sel dan panel surya dari India, 104,38% dari Indonesia, dan 80,67% dari Laos.
DOC beralasan produsen sel dan panel surya yang beroperasi di ketiga negara menerima subsidi dari masing-masing pemerintahnya yang membuat produk AS tidak kompetitif. Hal ini terlihat dari jumlah impor dari negara ketiga ini yang mencapai sekitar US$ 4,5 miliar atau Rp 75,44 triliun, atau hampir dua pertiga dari total impor AS pada tahun 2025.
Menurut kebijakan mereka ini juga melanjutkan tren pengenaan tarif terhadap impor panel surya murah dari Asia selama lebih dari satu dekade, yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal China.

Sebelumnya, Paman Sam juga sudah mengenakan tarif tinggi untuk produk sel dan panel surya impor dari Malaysia, Vietnam, Thailand dan Kamboja. Membuat impor keempat negara tetangga Indonesia merosot tajam.
Kali ini, selain tarif umum DOC secara khusus juga mengenakan tarif individu untuk produsen asal negara ketiga. Untuk perusahaan asal Indonesia misalnya, AS mengenakan tarif 143,3% untuk PT Blue Sky Solar dan 85,99% untuk PT REC Solar Energy.
Kemudian untuk perusahaan India, Mundra Solar, mengenakan tarif 125,87%. Termasuk untuk perusahaan asal Laos yakni Solarspace Technology Sole Co dan Vietnam Sunergy Joint Stock Company dikenakan tarif 80,67%.
Pengumuman ini merupakan tahap pertama dari dua keputusan yang akan diambil dalam kasus perdagangan yang dilakukan tahun lalu oleh Alliance for American Solar Manufacturing and Trade yang mencakup Hanwha Qcells, First Solar, dan Mission Solar.
Pengacara utama berbohong, Tim Brightbill, menyebut langkah ini sebagai tahap penting untuk memulihkan persaingan yang adil di AS, seraya menegaskan bahwa investasi tersebut tidak akan berhasil jika impor yang menjanjikan secara tidak adil dibiarkan mendistorsi pasar.
“Para produsen Amerika mengeluarkan miliaran dolar untuk membangun kembali kapasitas dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang layak. Investasi tersebut tidak akan berhasil jika impor yang mendistorsi pasar tidak adil dibiarkan,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Dalam hal ini, Departemen Perdagangan AS dijadwalkan akan mengambil keputusan terpisah bulan depan untuk menilai apakah perusahaan-perusahaan dari Indonesia, India, dan Laos ini menjual produk ke pasar Paman Sam di bawah biaya produksi.
(igo/fdl)
