Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai hari ini akan membantu Bank Indonesia (BI) untuk mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Langkah itu diambil setelah rupiah babak belur ke level Rp 17.500/US$.
“Kita bisa akan mulai membantu besok (hari ini) mungkin,” kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa kemarin.
Purbaya menjelaskan upayanya membantu stabilitas nilai tukar rupiah yakni dengan memanfaatkan skema intervensi di pasar surat berharga atau pasar obligasi.
“Dengan masuk ke pasar obligasi, itu adalah Bond Stabilization Fund (BSF), tetapi belum mendanai semuanya. Kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan,” ucap Purbaya.

Purbaya mengklaim kas pemerintah saat ini sangat berlimpah untuk membantu BI melakukan intervensi tekanan rupiah di pasar obligasi.
“Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur, kita intervensi pasar obligasi supaya imbal hasil-nya tidak naik terlalu tinggi,” ucap Purbaya.
“Kalau imbal hasil-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang memegang obligasi di sini kan ada capital loss, dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing tidak keluar, atau masuk malah kalau imbal hasil-nya membaik sehingga rupiah akan menguat. Kita akan masuk mulai besok,” tambahnya.
Purbaya Rapat Dadakan di Lobby Kemenkeu
Purbaya sampai menggelar rapat dadakan dengan jajarannya di lobi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta Pusat, Selasa (12/5). Rapat itu membahas strategi untuk membantu BI mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Iya kira-kira itu,” kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa kemarin. Ia ditanya apakah rapat terkait langkah pemerintah untuk membantu mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah.
Terpantau pejabat yang ada di lokasi di antaranya Sekretaris Jenderal Kemenkeu Robert Leonard Marbun, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto, Direktur Jenderal Perbendaharaan Astera Primanto Bhakti, hingga Plh Direktur Jenderal Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Ferry Ardiyanto.
Sayangnya, Purbaya belum mau mengungkapkan strategi apa yang akan dijalankan pemerintah. Bocorannya yakni memanfaatkan skema intervensi di pasar surat berharga atau pasar obligasi.
“Strateginya masih dirahasiakan, kalau dikasih tahu nanti musuh tahu. Tapi kita akan coba melihat apakah kita bisa membantu stabilitas di pasar obligasi, nanti pelan-pelan ke pasar nilai tukar juga,” ucap Purbaya.
(bantuan/fdl)
