Universitas Sriwijaya (UNSRI) terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan kampus hijau yang berkelanjutan melalui program terpadu pengolahan sampah organik. Program ini menjadi salah satu upaya nyata untuk mengurangi volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus mengubah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan kampus.
Melalui Unit Pengolahan Sampah, UNSRI menerapkan berbagai metode pengelolaan limbah organik yang berasal dari aktivitas sehari-hari di lingkungan kampus.
Salah satu metode yang dijalankan adalah pengomposan konvensional (composting). Memanfaatkan proses dekomposisi alami, UNSRI mengolah limbah dedaunan kering, potongan rumput, dan kotoran hewan menjadi kompos. Melalui bantuan mikroorganisme (bakteri dan jamur), proses ini memakan waktu sekitar satu bulan. Hasilnya adalah pupuk kompos yang kaya akan nutrisi, yang sangat berguna untuk memperbaiki struktur tanah di area taman dan ruang terbuka hijau kampus.
Selain itu, UNSRI juga mengembangkan vermikompos (vermicomposting) dengan memanfaatkan cacing tanah sebagai agen pengurai bahan organik. Cacing-cacing ini mengonsumsi sampah organik dan menghasilkan vermicast (kascing) yang memiliki kandungan hara yang sangat tinggi. Proses vermikompos ini membutuhkan waktu sekitar tiga hingga delapan minggu.
Produksi kompos dan vermikompos tersebut diinisiasi dan dilaksanakan secara aktif oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HILMITA), Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Keterlibatan mahasiswa sebagai bentuk kolaborasi akademik dan praktik langsung di lapangan. Keterlibatan mahasiswa ini membuktikan bahwa pengelolaan limbah dapat disinergikan dengan keilmuan yang dipelajari di bangku kuliah.
Tidak hanya itu, limbah sisa makanan dari kantin-kantin di lingkungan kampus juga dimanfaatkan untuk menghasilkan Pupuk Organik Cair (POC). Limbah sisa makanan dari kantin-kantin yang ada di kawasan kampus tidak lagi dibuang percuma. Limbah tersebut dikumpulkan dan diolah di Unit Pengolahan Sampah dengan memanfaatkan botol galon bekas sebagai wadah fermentasi untuk menghasilkan Pupuk Organik Cair (POC). Langkah ini merupakan bagian dari eksplorasi pemanfaatan sisa makanan menjadi produk yang lebih bernilai.
UNSRI juga menerapkan metode aplikasi langsung (direct application) dengan memanfaatkan sampah dedaunan sebagai mulsa. Sampah dedaunan yang berguguran di sekitar kampus tidak selalu harus melalui proses pengomposan. Untuk upaya efisiensi, dedaunan (serasah daun) diaplikasikan langsung ke tanah sebagai mulsa. Alih-alih membuang, dedaunan ini dibiarkan menutupi permukaan tanah untuk menjaga kelembapan, menekan pertumbuhan gulma, dan secara perlahan memperbaiki kualitas tanah seiring proses pelapukan alami.
Program pengolahan sampah organik ini merupakan bagian dari komitmen UNSRI dalam mendukung pencapaian indikator UI GreenMetric, khususnya pada aspek pengelolaan limbah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana edukasi nyata bagi civitas akademika tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan menerapkan prinsip sirkular ekonomi di lingkungan pendidikan. Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat menjadikan UNSRI sebagai role model kampus Zero Waste di masa depan.
(adi/rp)(Ara_Humas)