Berdasarkan catatan detikcom, Minggu (18/1/2026), hubungan Iran dan AS mulai memburuk ketika aksi protes anti-pemerintah terjadi di Iran. Dalam beberapa kesempatan, AS ikut-ikutan mencampuri urusan dalam negeri Iran.
Tak hanya itu, AS juga bahkan secara terang-terangan membuka peluang mengambil tindakan yang sangat keras jika situasi di Iran semakin memburuk. Situasi tersebut diperparah dengan adanya tuduhan kejahatan berdarah di Iran yang dimotori oleh AS dan Israel.
Merespons situasi itu, Iran bahkan sempat menutup sementara wilayah udaranya untuk semua penerbangan kecuali penerbangan sipil internasional untuk kedatangan dan keberangkatan yang telah mendapat izin resmi sebelumnya. Belum diketahui sampai kapan Iran akan menutup wilayah udaranya.
Dilaporkan Anadolu Agency, Kamis (15/1) lalu, pemberitahuan penutupan wilayah udara ini dimulai hari ini. Iran hanya mengizinkan penerbangan sipil internasional dengan persetujuan dari otoritas penerbangan sipil.
Pembatasan ini berlaku untuk penerbangan yang masuk atau keluar Iran, sementara semua lalu lintas udara lainnya kenyamanan, kata pemberitahuan tersebut.
Iran-AS Memanas di Forum DK PBB
Hubungan keduanya semakin parah ketika rapat forum Dewan Keamanan PBB. Kedua negara sempat cekcok dalam forum tersebut.
Cekcok terjadi ketika forum itu mulai membahas situasi unjuk rasa di negara Iran tersebut. Washington menepis tuduhan Teheran soal unjuk rasa yang melanda Iran sebagai “konspirasi asing” yang melibatkan AS.
Di sisi lain, Iran terus menuding AS telah menggunakan “kebohongan” dan “distorsi fakta” untuk menyembunyikan keterlibatan dalam unjuk rasa yang diwujudkan di wilayahnya.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, seperti dilansir Reuters, Sabtu (17/1), menyampaikan bantahan atas tuduhan Iran bahwa unjuk rasa di negara tersebut merupakan “konspirasi asing untuk memberikan pendahuluan bagi aksi militer”.
“Semua orang di dunia perlu mengetahui bahwa rezim tersebut lebih lemah dari sebelumnya, dan oleh karena itu, menyebarkan rahasia ini karena kekuatan rakyat Iran di jalanan. Mereka takut. Mereka takut pada rakyat mereka sendiri,” kata Waltz dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada Kamis (15/1).
Lebih lanjut, Waltz menegaskan kembali bahwa AS mendukung “rakyat Iran yang berani”, dan Presiden Donald Trump “telah menjelaskan bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan pembunuhan”.
Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi untuk mendukung para demonstran di Iran, di mana ribuan orang dilaporkan tewas akibat penindakan terhadap protes yang menentang pemerintah.
Namun pada Kamis (15/1), Trump mengambil sikap menunggu dan melihat, dengan mengatakan bahwa dirinya telah diberitahu jika tindak kekerasan mulai mereda. Dikatakan juga oleh Trump bahwa dia yakin tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar di Iran pada saat ini.
“Presiden Trump adalah seseorang yang bertindak, bukan hanya banyak bicara seperti yang kita lihat di PBB. Dia telah menjelaskan bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan pembunuhan,” ucap Waltz.
Wakil Duta Besar Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, dalam forum yang sama menegaskan bahwa Teheran tidak mencari eskalasi atau konfrontasi.
Darzi menuduh Waltz telah menggunakan “kebohongan, distorsi fakta, dan kampanye disinformasi yang bertujuan untuk menyembunyikan keterlibatan langsung negaranya dalam mewujudkan Iran menuju kekerasan”.
“Namun, setiap tindakan agresi — baik langsung atau tidak langsung — akan ditanggapi dengan respons yang tegas, proporsional, dah sah,” tegas Darzi kepada forum Dewan Keamanan PBB.
“Ini bukan ancaman; ini adalah pernyataan tentang realitas hukum,” ujarnya.
Dalam pernyataan terpisah di forum yang sama, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menuduh AS meminta diadakannya rapat Dewan Keamanan PBB untuk “membenarkan agresi dan intervensi secara terang-terangan terhadap urusan internal negara yang berdaulat”.
Dia juga Washington melontarkan ancaman untuk “menyelesaikan masalah Iran dengan cara favoritnya: melalui serangan yang bertujuan untuk menegaskan rezim yang tidak diinginkan”.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengumumkan “semua pihak untuk menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa lebih lanjut atau memicu eskalasi regional yang lebih luas”.
(maa/maa)