Jakarta – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jawa Barat I secara serentak memblokir rekening 174 wajib pajak yang tercatat memiliki tunggakan pajak dengan total mencapai Rp 224,60 miliar. Aksi itu dilakukan melalui 16 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di bawah naungannya.
Kepala Bidang Pemeriksaan, Penagihan, Intelijen dan Penyidikan (PPIP) Kanwil DJP Jawa Barat I Nandang Hidayat mengatakan terdapat 275 rekening aktif yang dikirim untuk mengunci guna mengamankan aset negara. Tindakan ini merupakan bagian dari prosedur pengumpulan aktif guna mendorong pemenuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
“Kami berkomitmen untuk memperlakukan seluruh wajib pajak dengan setara. Wajib pajak yang telah patuh harus dilindungi, sementara yang masih memiliki tunggakan harus diingatkan melalui mekanisme hukum yang berlaku,” ujar Nandang dalam keterangan tertulis, Kamis (7/5/2026).
Nandang menyebut seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan standar prosedur operasional (SOP) dan ketentuan peraturan-undangan yang berlaku. Tahapan-tahapan penagihan telah dilakukan sesuai aturan mulai dari pesanan Surat Teguran, hingga pesanan Surat Paksa kepada wajib pajak sebelum langkah blokir diambil.

“Sebelumnya kami telah melakukan berbagai upaya persuasif dan memberikan edukasi, namun wajib pajak tidak memiliki itikad baik untuk melunasi utang pajaknya sehingga terpaksa dilakukan pemblokiran rekening,” jelasnya.
Tindakan pemblokiran ini dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000. Pemblokiran merupakan salah satu tahapan dalam proses penagihan aktif sebelum dilakukan penyertaan saldo rekening untuk melunasi utang pajak.
Nandang mengimbau kepada seluruh wajib pajak untuk segera melunasi tunggakan pajaknya agar terhindar dari tindakan pengumpulan yang lebih berat seperti penyertaan aset, pemblokiran rekening, hingga pencegahan perjalanan ke luar negeri.
“Langkah ini diharapkan mampu memberikan efek jera (efek jera) sekaligus meningkatkan kesadaran wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya demi pembangunan nasional yang berkelanjutan,” pungkas Nandang.
(bantuan/fdl)
