Jakarta – Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan udara untuk malam ketiga berturut-turut ke sejumlah sasaran militer Iran, sementara Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap Iran. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker, pangkalan militer, dan strategi infrastruktur.
Washington menyatakan operasi militer itu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Di sisi lain, Teheran memperluas serangan balasan terhadap sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang semakin meluas.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyebut serangan terbaru yang dilakukan pada Selasa (14/7) berlangsung sekitar lima jam dan menyasar sistem pertahanan pantai, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta kemampuan maritim Iran di Bushehr, Chabahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.
CENTCOM menyatakan operasi tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Militer AS juga menegaskan bahwa lebih dari 50.000 personel masih disiagakan di Timur Tengah.
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut. Dalam wawancara dengan pembawa acara radio Hugh Hewitt pada Senin (13/7), Trump diperingatkan bahwa Iran akan “terpukul keras” pada Senin dan Selasa.
Trump juga mengungkapkan fasilitas bawah tanah Iran, Pickaxe Mountain, yang berada di dekat kompleks nuklir Natanz, tengah pengawasan dan berpotensi menjadi target serangan berikutnya.
Sebelumnya, CENTCOM mengumumkan bahwa mulai Selasa (14/7) blokade laut terhadap Iran diberlakukan kembali. Kebijakan tersebut berlaku bagi kapal yang menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran. Trump juga menyatakan bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dikenakan pungutan sebesar 20 persen untuk menutup biaya pengamanan jalur pelayaran.
Namun, perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd mengkhawatirkan rencana tersebut. Perusahaan menilai pengenaan biaya di perairan internasional merupakan langkah yang “secara mendasar salah.”
Iran menyerang kapal tanker dan pangkalan sekutu AS
Di tengah operasi militer AS, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menonaktifkan dua supertanker di Selat Hormuz karena dianggap mengabaikan peringatan dan melintasi jalur yang disebut telah dipasangi ranjau.
Menurut Uni Emirat Arab (UEA), kedua kapal tanker, Mombasa dan Al Bahiyah, diserang oleh rudal jelajah Iran saat berlayar di perairan Oman. Serangan tersebut membunuh seorang awak kapal asal India dan melukai delapan orang lainnya. Kedua kapal kemudian terbakar sebelum api berhasil dipadamkan.
India memanggil wakil Duta Besar Iran menyusul terbunuhnya warga negaranya dalam kejadian tersebut.
IRGC juga berencana meluncurkan rudal dan drone ke Bahrain dengan sasaran gudang senjata, pusat komunikasi satelit, serta kompleks tempat tinggal personel militer AS. Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, menyatakan berhasil mencegat sejumlah serangan udara Iran dan menuduh Teheran menyerang wilayah sipil.
Sementara itu, Yordania mengaku berhasil mencegat 4 rudal yang ditembakkan Iran ke arah pangkalan militer AS di wilayahnya. Iran juga menyampaikan kepada masyarakat Yordania untuk mengungkap pangkalan militer Amerika di negara tersebut.
Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengaku meluncurkan rudal dan drone ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan udara terhadap Bandara Sanaa.
Harga minyak melonjak, kekhawatiran meluas
Meningkatnya konfrontasi antara Washington dan Teheran langsung memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak Brent naik lebih dari 2 persen hingga mendekati 85 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah mendekati 80 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel.
Pasar bereaksi terhadap meningkatnya risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur yang menjadi salah satu titik transit minyak terpenting di dunia.
Meski demikian, para analis mencatat bahwa Selat Hormuz masih tetap terbuka untuk pelayaran internasional. Namun, meningkatnya aksi militer, serangan terhadap kapal tanker, serta kebijakan blokade AS yang dinilai meningkatkan ancaman terhadap keamanan perdagangan global dan stabilitas pasokan energi.
Di Iran sendiri, situasi yang terus berubah antara operasi militer dan upaya diplomasi termasuk memicu peperangan yang berkepanjangan bagi masyarakat. Warga menghadapi tekanan ekonomi, kekhawatiran akan kekerasan baru, serta ketidakjelasan mengenai arah konflik yang terus berkembang.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Redaktur : Rizki Nugraha
(ita/ita)
