Jakarta – Jika selama ini emas dianggap sebagai standar nilai tertinggi komoditas, fenomena unik dalam industri peternakan mungkin akan mengubah pandangan tersebut. Produk sampingan berupa batu empedu sapi kini tercatat memiliki nilai ekonomis yang sangat menakjubkan, bahkan harganya secara konsisten melampaui harga emas murni per onsnya.
Batu segel sapi atau yang secara medis merupakan pengendapan cairan pencernaan yang menggumpal ini, menjadi harta karun yang paling dicari dalam industri kesehatan tradisional, khususnya di wilayah Asia Timur.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal, pada tahun 2025 harga batu empedu sapi mencapai angka 5.800 dolar AS per ons (setara Rp90,8 juta). Sebagai perbandingan, nilai dua kali lipat tersebut lebih mahal dibandingkan harga emas pada periode yang sama.
Kenaikan harga yang drastis ini dipicu oleh kelangkaan pasokan yang ekstrem. Secara alami, batu empedu lebih sering terbentuk pada sapi yang sudah berusia tua.

Namun, industri peternakan modern saat ini justru lebih banyak menyembelih sapi di usia muda untuk meningkatkan efisiensi produksi daging. Ketimpangan antara pasokan yang minim dan permintaan yang terus meroket pun tak terelakkan.
Fungsi Vital dalam Pengobatan Tradisional
Dalam dunia pengobatan tradisional Tiongkok, batu empedu sapi dikenal dengan nama Niu Huang (牛黄). Komoditas ini merupakan bahan utama dalam pembuatan Angong Niuhuang Wan, sebuah ramuan legendaris yang digunakan untuk menangani kondisi darurat saraf.
Permintaan tertinggi datang dari Tiongkok dengan angka kasus stroke yang dilaporkan tiga kali lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat. Batu empedu ini dipercaya memiliki khasiat ampuh untuk mengobati:
Gangguan kesadaran dan koma akibat demam tinggi.
Penanganan darurat pada kasus stroke.
Hipertensi dan berbagai penyakit kardiovaskular.
Untuk mengurangi harga gejolak, para ilmuwan di China telah mengembangkan batu empedu “kultur” yang dibuat di laboratorium. Meski diklaim memiliki efek pelindung saraf dan hati yang mirip dengan versi alami, para praktisi medis tradisional tetap menganggap batu empedu alami sebagai standar kualitas tertinggi.
(kna/kna)
