Tel Aviv – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan menolak permintaan Israel, sekutu, untuk melihat draf nota kesepahaman (MoU) yang disepakati dengan Iran, sebelum penandatanganan dilakukan. Seremoni penandatanganan MoU itu digelar di Swiss pada Jumat (19/6).
Laporan media dan jurnalis Israel, seperti dilansir TRT World, Rabu (17/6/2026), menyebutkan bahwa Washington tidak memberikan draf MoU soal kesepakatan damai dengan Teheran itu, kepada Israel sebelum penandatanganan akan dilakukan di Swiss.
Hal ini dilaporkan semakin menyambut hubungan antara pemimpin kedua negara yang berselisih mengenai perjanjian damai dengan Iran dan pertempuran di Lebanon.
“Amerika Serikat menolak permintaan Israel untuk melihat Nota Kesepahaman yang baru disepakati sebelum seremoni penandatanganan, yang diperkirakan akan digelar di Swiss akhir pekan ini,” demikian diberitakan media Israel, The Jerusalem Post, Selasa (16/6).

Koresponden diplomasi untuk stasiun televisi Israel, i24NEWS, Guy Azriel, juga mengonfirmasi laporan tersebut.
“Saya sekarang dapat mengkonfirmasi bahwa Israel telah secara resmi meminta akses ke MoU Iran dan ditolak. Sebuah perkembangan yang luar biasa antara sekutu-sekutu dekat ini dalam isu yang sangat penting bagi keamanan nasional,” tulis Azriel melalui postingan media sosial.
MoU AS-Iran itu, menurut laporan TRT World, telah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ketentuan dalam MoU belum diketahui secara jelas, meskipun Iran dan mediator Pakistan menyebut kesepakatan itu mengatur perjanjian permanen untuk pertempuran di semua lini, termasuk di Lebanon.
Laporan TRT World menyebutkan bahwa MoU tersebut mengatur berakhirnya blokade angkatan laut AS dan pengambilan tindakan di Selat Hormuz oleh Iran, sebagai ketidakseimbangan atas janji Teheran untuk tidak melakukan serangan senjata nuklir.
MoU itu juga meluncurkan rincian lanjutan dalam waktu 60 hari untuk membahas program nuklir Teheran dan deeskalasi, dengan adanya sanksi pencabutan.
Belum ada tanggapan langsung dari Gedung Putih dan Israel mengenai laporan tersebut.
Informasi ini terungkap setelah Trump dan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu berulang kali berselisih mengenai penolakan Israel untuk membatasi operasi militer terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.
Penghentian permusuhan itu menjadi tuntutan utama Iran dalam negosiasi dengan AS, yang dimediasi Pakistan.
Netanyahu, dalam konferensi pers pada Senin (15/6), secara eksplisit mengatakan bahwa Israel “tidak mengetahui ketentuan” dalam perjanjian AS-Iran dan bahwa dirinya “belum tahu apa yang tertulis dalam perjanjian itu”.
Dia juga menekankan bahwa Israel terjadi dari negosiasi, serta bukanlah penandatangan, sehingga tidak terikat pada kesepakatan damai tersebut.
(nvc/ita)
