(Penulis: Amanda Dian Sucia, Kaiman)
PALEMBANG – Sektor pariwisata Kota Palembang semakin menunjukkan peran strategi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya melalui penguatan ekonomi kreatif dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, Palembang memiliki karakter wisata perkotaan (urban pariwisata) yang berbasis sejarah, budaya, kuliner, serta penyelenggaraan event dan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Ikon Sungai Musi dan Jembatan Ampera, peninggalan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, hingga kekayaan kuliner seperti pempek dan produk kriya berbasis budaya menjadi daya tarik utama pariwisata kota ini. Potensi tersebut menjadikan sektor pariwisata tidak hanya sebagai sarana promosi daerah, tetapi juga sebagai penggerak perekonomian lokal yang berdampak luas.
Kinerja Pariwisata Kota Palembang menunjukkan tren pemulihan yang signifikan pascapandemi. Pada tahun 2023, jumlah kunjungan wisatawan tercatat mencapai sekitar 2,01 juta kunjungan, meningkat sekitar 35 persen dibandingkan tahun 2022. Peningkatan ini berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi di sektor perhotelan, restoran, transportasi, serta jasa hiburan dan event.

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Pariwisata secara aktif mendorong promosi destinasi dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan melalui Calendar of Charming Events. Sepanjang tahun 2024, tercatat 125 event pariwisata digelar, dan jumlah ini direncanakan meningkat menjadi 143 event pada tahun 2025. Sejumlah agenda unggulan seperti Festival Sriwijaya dan Festival Perahu Bidar Tradisional bahkan masuk dalam kalender nasional Kharisma Event Nusantara.
Menurut Pengawas Kepariwisataan Dinas Pariwisata Kota Palembang, Yogie Vargonata, S.Sos, perkembangan sektor pariwisata di Palembang saat ini menunjukkan peran yang semakin penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. “Pariwisata tidak hanya berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga menjadi pengungkit bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM lokal. Melalui event pariwisata dan penguatan destinasi, kami mendorong agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Secara struktural, pariwisata tidak tercatat sebagai satu sektor tunggal dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Namun kontribusinya tercermin melalui sektor-sektor pendukung seperti investasi, makan minum, perdagangan, transportasi, dan jasa lainnya. Pada tahun 2023, PDRB Kota Palembang mencapai Rp194,57 triliun dan meningkat menjadi sekitar Rp208,19 triliun pada tahun 2024.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palembang juga signifikan. Pada tahun 2023, penerimaan pajak hotel, restoran, dan hiburan diperkirakan mencapai Rp344 miliar atau sekitar 30 persen dari total PAD. Pajak restoran menjadi kontributor terbesar seiring kuatnya karakter Palembang sebagai destinasi wisata kuliner.
Dampak pariwisata juga dirasakan melalui multiplier effect terhadap UMKM dan ekonomi kreatif. Produk khas seperti pempek, songket, dan kain jumputan mengalami peningkatan permintaan. Tercatat lebih dari 81 ribu UMKM yang terdaftar di Kota Palembang, yang didukung melalui pelatihan, pendampingan, dan program pembiayaan dari pemerintah daerah.
Secara keseluruhan, pariwisata berperan sebagai pengungkit pembangunan ekonomi daerah yang bersifat multisektoral. Penguatan sinergi antardinas, peningkatan kualitas event dan destinasi, serta optimalisasi peran UMKM lokal menjadi kunci agar pariwisata Palembang tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan.
Artikel ini disusun sebagai bagian dari pembelajaran pada mata kuliah Pariwisata dalam Perekonomian Global di Program Studi Magister Pariwisata, Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, di bawah pelatihan Caria Ningsih, Ph.D. dan Dr. Erry Sukriah. Tulisan ini merefleksikan proses pembelajaran akademik yang dikontekstualisasikan dengan kenyataan dan dinamika pengembangan pariwisata daerah.