“Dengan volume sebesar itu, bendungan tersebut hanya bisa memasok Teheran selama dua minggu,” ujar Direktur Perusahaan Air Teheran, Behzad Parsa, dilansir dari Al-Jazeera, Sabtu (8/11/2025).
Iran yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia itu menghadapi kekeringan terburuk dalam beberapa dekade. Saking parahnya, salah satu pejabat menyebut hujan di Teheran ‘hampir belum pernah terjadi selama satu abad’.
Kelangkaan udara berbanding terbalik dengan sumber minyak yang berlimpah di negara tersebut. Iran diketahui berada di posisi 9 negara produsen minyak terbesar dunia dengan produksi 3,9 juta barel per hari, atau 4% dari total produksi dunia.
Dengan cadangan minyak sekitar 157 miliar barel, Iran menguasai 24% cadangan minyak kawasan Timur Tengah dan 12% cadangan minyak dunia. Negara itu merupakan produsen minyak terbesar kesembilan di dunia dan keempat terbesar di OPEC.
Dari jumlah tersebut, sekitar 2 juta barel minyak mentah dan bahan bakar olahan diekspor setiap hari. Pada tahun 2023, pendapatan ekspor minyak bersih Iran diperkirakan mencapai US$ 53 miliar, melonjak dibandingkan US$37 miliar pada tahun 2021.
Meski perekonomian Iran lebih terdiversifikasi dibandingkan banyak negara tetangganya, sektor minyak tetap menjadi sumber pemasukan utama pemerintah.
Namun selama bertahun-tahun, produksi minyak Iran berada jauh di bawah potensinya akibat minimalnya investasi asing dan sanksi internasional yang berkepanjangan.
Kembali ke krisis udara, Teheran yang merupakan kota metropolitan berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa berada di lereng selatan Pegunungan Alborz, yang puncaknya mencapai 5.600 meter dan mengalirkan air ke sejumlah waduk.
Setahun lalu, Bendungan Amir Kabir masih menampung 86 juta meter kubik udara, kata Parsa, namun kini wilayah Teheran mengalami penurunan presipitasi 100%. Parsa tidak menjelaskan kondisi empat penyumbatan lainnya dalam sistem tersebut.
Media Iran melaporkan, warga Teheran mengonsumsi sekitar tiga juta meter kubik udara per hari. Untuk menghemat pasokan, sejumlah organisasi telah diputus dalam beberapa hari terakhir, sementara pemadaman udara sering terjadi sepanjang musim panas.
Pada bulan Juli dan Agustus, pemerintah sempat menetapkan dua hari libur umum untuk menghemat udara dan energi, di tengah gelombang panas yang membuat suhu melebihi 40 derajat Celsius di Teheran dan mencapai lebih dari 50 derajat Celsius di beberapa wilayah.
“Krisis air jauh lebih serius daripada yang dibicarakan saat ini,” peringatan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada waktu itu.
Kelangkaan udara menjadi masalah besar di seluruh Iran, terutama di provinsi-provinsi kering di bagian selatan. Kekurangan ini sering dikaitkan dengan salah urus, berlebihannya sumber air tanah, serta dampak perubahan iklim.
Tetangga Iran, Irak, juga menghadapi kondisi serupa dengan mengalami tahun terkering sejak 1993. Debit sungai Tigris dan Eufrat turun hingga 27 persen akibat minimnya hujan dan mengambil air dari hulu, yang kemudian memicu krisis kemanusiaan yang parah di wilayah selatan negara itu.
(ily/hns)