Jakarta – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu akan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan nasional Israel. Keputusan itu diumumkan oleh partai Likud, partai sayap kanan yang dipimpin Netanyahu.
Dilaporkan AFP, Rabu (10/6/2026), pengumuman itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka berpikir apakah pria berusia 76 tahun itu akan maju dalam pemilihan.
Netanyahu, yang merupakan Perdana Menteri Israel dengan masa jabatan terpanjang, telah memimpin negaranya melalui tiga tahun perang. Saat ini, ia sedang diadili atas tuduhan korupsi.
“Perdana Menteri Netanyahu akan maju dalam pemilihan berikutnya dan, jika Tuhan menghendaki (Insya Allah), dia akan menang,” kata partai tersebut di Telegram.

Deklarasi tersebut muncul setelah Trump mengatakan kepada ABC News bahwa ia tidak yakin tentang niat Netanyahu.
“Saya tidak tahu, dia memiliki karier yang luar biasa. Apakah dia ingin melanjutkan?” kata Trump.
“Karena, Anda tahu dia adalah perdana menteri di masa perang,” sambungnya.
Netanyahu sebelumnya mengatakan dia akan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan yang diadakan pada akhir Oktober. Dia telah menjabat sebagai perdana menteri selama hampir dua dekade dalam beberapa periode.
Pernyataan Trump tersebut menyusul silang pendapat antara kedua pemimpin beberapa hari sebelumnya, di mana presiden AS mencaci maki perjanjian dalam sebuah ledakan amarah yang penuh dengan kata-kata kejam. Netanyahu, di sisi lain, meremehkan pertukaran tersebut dalam penampilan di CNBC.
Masa depan politik Netanyahu tidak hanya dibayangkan oleh ketegangan dengan Washington, tetapi juga oleh serangkaian masalah kesehatan.
Ia-baru ini mengungkapkan bahwa para ahli bedah telah berhasil mengangkat apa yang ia gambarkan sebagai ‘tumor ganas kecil stadium awal’ dari baru prostatnya.
Netanyahu telah beberapa kali dirawat di rumah sakit sejak kembali menjabat pada Desember 2022, menurut kantornya. Pada Maret 2024, ia menjalani operasi hernia, sebelum menjalani operasi pembesaran prostat pada Desember tahun yang sama.
Netanyahu saat ini sedang melancarkan perang di tiga front yang saling terkait. Di Gaza, Israel melanjutkan operasi militer melawan Hamas meskipun ada gencatan senjata di wilayah Palestina.
Di Lebanon, Israel melancarkan kampanye melawan gerakan Hizbullah yang didukung Iran meskipun ada gencatan senjata di sana.
Sementara itu, di Iran, Israel bergabung dengan sekutunya, AS, dalam melancarkan gelombang serangan yang melemahkan sebagian pemimpin besar negara itu dan memicu perang yang telah menyebar ke seluruh wilayah.
(fca/yg)
