Teheran – Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan kembali dibuka di bawah “pengaturan Iran”. Hal ini setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali kapal saling menyerang, menyusul serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, yang diyakini didalangi oleh Teheran.
“Amerika Serikat masih belum belajar bahwa aksi bullying dan mengingkari janji, tidak lagi bebas dari konsekuensi,” tegas Ghalibaf dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir AFP, Kamis (9/7/2026).
“Biar saya jelaskan: Jika Anda menyerang, Anda akan diserang balik,” kata Ghalibaf, yang juga menjabat ketua parlemen Iran tersebut.
Penegasan Ghalibaf itu disampaikan setelah sebelumnya dia menuduh AS melanggar gencatan senjata. Dia merujuk pada rentetan serangan terbaru AS, pemberlakuan kembali sanksi minyak Iran, dan pelanggaran terhadap “penyesuaian” yang diterapkan Teheran di Selat Hormuz, serta serangan Israel yang terus berlanjut terhadap Lebanon.
“Era bullying dan pemerasan telah berakhir. Kami tidak akan menyerah,” tegasnya.
Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menyerang tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, termasuk kapal milik Qatar dan Arab Saudi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Teheran tetap berkomitmen untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun dia juga memperingatkan bahwa “kapal-kapal yang menggunakan rute (di Selat Hormuz) tanpa koordinasi dengan otoritas Iran, telah mengekspos diri mereka pada risiko”.
Secara terpisah, lembaga penerbit negara Iran, IRIB, yang mengutip sumber-sumber anonim, mengklaim bahwa kapal tanker Qatar menjadi sasaran setelah mengabaikan peringatan berulang kali dari pasukan Iran, saat melintasi Selat Hormuz dengan didukung Angkatan Laut AS.
Untuk membalas serangan di Selat Hormuz itu, Komando Pusat AS atau CENTCOM, pada Selasa (7/7) melancarkan serangan ofensif terhadap lebih dari 80 target terkait Iran, termasuk sistem pertahanan udara Iran, lokasi radar pesisir, hingga lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
IRGC membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Diklaim oleh IRGC bahwa “Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melakukan operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 fasilitas militer utama AS” di kedua negara itu dan menembak jatuh sebuah drone MQ-9.
Gelombang serangan AS terhadap Iran berlanjut pada Rabu (8/7), dengan CENTCOM mengumumkan bahwa pasukannya menyerang sedikitnya 90 target militer Iran pada Rabu (8/7) malam untuk “semakin meningkatkan kemampuan Iran dalam serangan komersial dan para pelaut sipil tak berdosa di Selat Hormuz”.
“Pasukan AS telah menghancurkan sekitar 90 sasaran militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengintaian pesisir, lokasi penyimpanan rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta infrastruktur logistik militer di sepanjang garis pantai Iran,” sebut CENTCOM lebih lanjut.
Tidak mau kalah, IRGC mengumumkan pada Kamis (9/7) bahwa pasukannya telah melancarkan serangan balasan terhadap “infrastruktur dan fasilitas utama” di pangkalan militer AS di Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain, dengan menggunakan rudal dan drone.
Serangan-serangan Teheran itu membuat sirene peringatan serangan udara meraung-raung di Kuwait dan Bahrain. IRGC juga diperingatkan bahwa serangan mereka akan meluas ke pangkalan-pangkalan lainnya di seluruh wilayah jika serangan AS kembali terjadi.
(nvc/idh)
