Jakarta – Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran terus berkecamuk di Timur Tengah (Timteng). Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengesahkan resolusi yang menghalangi Iran untuk segera menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk.
Dilaporkan kantor berita AFP, Kamis (12/3), DK PBB mengatakan bahwa serangan tersebut melanggar hukum internasional dan menimbulkan “ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional.”
Resolusi DK PBB tersebut disahkan pada hari Rabu (11/3) waktu setempat dengan 13 negara menyatakan setuju dan dua negara abstain. Resolusi itu “menuntut penghentian segera semua serangan oleh Republik Islam Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania.”
Resolusi tersebut juga “mengecam setiap tindakan atau ancaman oleh Republik Islam Iran yang bertujuan untuk menutup, menghalangi, atau mengganggu navigasi internasional melalui Selat Hormuz.”

AS dan Israel pada 28 Februari 2026 melancarkan serangan terhadap Iran yang melemahkan pemimpin tertingginya dan memicu perang di Timur Tengah. Teheran telah membalas dengan serangan drone dan rudal di seluruh wilayah tersebut.
Ini termasuk serangan yang telah menghantam negara-negara tetangga yang telah menyatakan mereka tidak terlibat dalam perang, dan tidak mengizinkan pihak-pihak yang bertikai untuk melancarkan serangan dari wilayah mereka.
Iran juga menyerang kapal-kapal komersial yang melewati Selat Hormuz, jalur laut penting untuk perdagangan bahan bakar global, dalam upaya merugikan perekonomian global.
Trump Klaim Iran di Ambang Kekalahan
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran saat ini berada di ambang kehancuran. Trump pun meminta pasukan AS meningkatkan serangan.
Dilaporkan AFP, Kamis (12/3), Trump mengatakan serangan AS akan membuat Iran “hampir mustahil” untuk dibangun kembali. Trump mengatakan Iran saat ini sudah berada di ujung kekalahan.
Asap mengepul menyusul serangan di Kilang Minyak Bapco, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Pulau Sitra Bahrain, 9 Maret 2026. REUTERS/Stringer TPX IMAGES OF THE DAYAsap mengepul setelah serangan terhadap Kilang Minyak Bapco, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Pulau Sitra, Bahrain, 9 Maret 2026. (REUTERS/Stringer)
“Mereka hampir berada di ujung jalan,” kata Trump kepada wartawan di Washington.
Trump mengklaim pasukannya bisa menargetkan seluruh wilayah di Iran. Dia menyebut pemerintah Iran akan sulit bangkit kembali.
“Kita dapat menyerang beberapa bagian Teheran dan tempat-tempat lain yang jika kita lakukan, hampir mustahil bagi mereka untuk membangun kembali negara mereka, dan kita tidak menginginkannya,” imbuh Trump.
Laporan Intelijen AS: Rezim Iran Kuat-Tak Akan Tumbang
Laporan intelijen AS mengungkapkan bahwa sebagian besar kepemimpinan Iran masih utuh dan tidak berisiko untuk dikembangkan dalam waktu dekat, setelah hampir dua minggu dibombardir tanpa henti oleh AS dan Israel. Hal ini diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Laporan intelijen itu memberikan “analisis yang konsisten bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran,” kata salah satu sumber, dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Kamis (12/3).
Laporan terbaru itu diselesaikan dalam beberapa hari terakhir, kata sumber tersebut. Dengan tekanan politik yang melonjaknya harga minyak, Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa ia akan mengakhiri operasi militer AS terbesar sejak 2003 itu “segera.”
Namun, menemukan solusi yang dapat diterima untuk perang tersebut, bisa menjadi sulit jika para pemimpin garis keras Iran tetap teguh pada pendirian mereka. Laporan intelijen tersebut menggarisbawahi kepemimpinan ulama Iran tetap kuat, meskipun Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei terbunuh pada 28 Februari, hari pertama serangan AS dan Israel.
Para pejabat Israel dalam percakapan tertutup juga mengakui, bahwa tidak ada kepastian perang akan menyebabkan tumbangnya pemerintahan ulama Iran, kata seorang pejabat senior Israel kepada Reuters.
Sumber-sumber tersebut menekankan bahwa situasi di lapangan masih belum pasti dan dinamika di Iran dapat berubah. Kantor Direktur Intelijen Nasional dan Badan Intelijen Pusat menolak berkomentar.
(rfs/dek)
